Rabu, 25 Juli 2012

Ngiler

Ada yang mau beliin? :P

Inverted Fork in Action

Setelah kelar bikin braket lampu depan dan sen sekaligus dudukan kaliper rem ori-nya ke inverted fork alias garpu terbalik Aprilia gw, kemarin nyempetin ngecek progress ngelas rangkanya. Seperti yg gw duga, motor gw blm diapa2in lagi. Asli lelet nih bengkel. Udah 2 minggu lebih dicuekin motor gw. Gw akhirnya ngomong ama yg punya dan gw kasih deadline. Kalo sampe lewat deadline, gw pindah bengkel. Hiks.. jadi curhat.

Anyway, gw sekalian pasang pasang upsidedownnya ke rangka untuk lihat kecocokannya. Monggo dipantengin gambar-gambarnya. Rasanya pantes-pantes aja ya? Kekurangannya cuma sok upsidedown ini rada kepanjangan. Ada kemungkinan sok belakang perlu gw ganti sama yang lebih panjang supaya imbang. Udah gw tebak sih.. soalnya dulu waktu gw pake pas masih rangka Tiger standar, sok belakang gw perlu diganjal juga.

Kebetulan pas kemarin gw nengokin, motor punya builder gw lagi nongol juga. Iseng gw foto-fotoin aja bareng sang model amatir. Bagian buntutnya mirip punya gw tapi bedanya spakbornya rada lurus sedangkan punya gw ngebulat ngikutin ban.

Sabtu, 14 Juli 2012

Sok Terbalik

Cuma mau ngasih liat sok terbalik alias upsidedown Aprilia RS125 gw yang rencananya bakal nemplok ke si kucing alias The Cat. Batang slidernya udah dikrom ulang dan sejauh ini sih keliatannya hasilnya bagus, ga keliatan ada oli yang meler. Kalo warnanya keliatan aneh, itu kelakuan builder gw. Rada kecewa juga liat warnanya malah jadi kuning, padahal gw minta emas.. ah tapi masih bisa gw repaint belakangan.
Pelek depannya disamain dengan belakangnya, Champ alumunium 17x3.50. Banyak yang bilang bakal keliatan aneh.. tapi gw coba liat dulu deh hasilnya nanti. Kalo aneh, mungkin depannya akan gw tuker sama yang ga terlalu lebar. Lagian, gw belum 100% yakin sok Aprilia ini muat dikasih pelek 3.50 begitu nanti dipasangin ban.

Begini kira-kira posisi lampu CB dan sein Acipi di soknya. Besi behel untuk braketnya bakal dibuat ulang supaya lebih simpel.

Sebenernya gw beli sok USD ini juga dapet kaliper Brembo yang langsung plek dengan dudukannya. Sayangnya, kalipernya mentok di jeruji peleknya.
Jadi, untuk sekarang gw mau coba pake kaliper aslinya dulu. Untuk kaliper Brembo-nya mungkin akan tetap gw pasang tapi nanti belakangan kalo motornya udah jadi. Fokus gw yang penting motornya jadiin dulu. Detil-detil kecil bisa nyusul nanti.
Btw, itu cakram PSM. Kalo ga salah diameternya 350mm. Skarang kondisinya udah rada peyang gara-gara gw dulu lupa ngelepas kunci gembok trus nyangkut di kaliper. Mudah2an masih bisa dipres.. kalo ga bisa ya beli baru..

Kamis, 05 Juli 2012

Boks Aki & ECU

Iseng nyempetin nengok progress pengelasan rangka.. Lumayan deh, ECUnya udah punya tempat tersendiri.

ECU dan akinya miring-miring.. kayak buildernya.



Lampu remmm.. Udah pake LED. Nanti lampu-lampu sein juga gw ganti LED untuk ngehemat daya.

Sementara nungguin rangka, gw coba rekondisi sok upsidedown Aprilia RS125 yang selama ini cuma teronggok aja gara-gara olinya bocor mulu. Sempet pusing juga mikirin gimana cara benerin asnya yang baret, kiri-kanan pula yang baret. Untung aja dapet referensi tukang krom di Bandar Lampung sini. Sekarang sih asnya udah mulus, tinggal nunggu tabung sama segitiganya dicat. Sori, foto USDnya ntar aja yak.. Gw lupa fotoin. Untuk sementara, gw cuma ada foto lama waktu motor gw belom operasi kelamin.

Emangnya gw mo pake upsidedown ya? Ya sebenernya ini cuma gara-gara gw pengen pake velg yang lebar 3.50 juga di depan. Nah, segitiga Tiger kan ga muat tuh.. Jadi pilihannya ganti segitiga atau pake sok USD nganggur itu. Gw pikir daripada beli segitiga lagi, mending duitnya buat bagusin USDnya.

Senin, 02 Juli 2012

Studi Pulser Pengapian

Megasquirt perlu cara untuk ngebaca putaran mesin supaya bisa menentukan timing injeksi dan pengapian secara tepat. Gw berencana memanfaatkan sistem pulser pengapian standarnya untuk dihubungkan ke Megasquirt supaya tidak terlalu banyak ubahan. Sebelum gw bisa konekin pulsernya ke Megasquirt, gw perlu tahu dulu cara kerjanya dan bagaimana prosesnya supaya bisa menghasilkan spek timing pengapian seperti di manual. Seperti diketahui, saat pengapian mesin Tiger GL200 ada di 10 derajat sebelum TMA pada saat langsam (yaitu sekitar 1400 RPM) kemudian naik secara linear perlahan sampai maksimal ada di 32 derajat sebelum TMA pada 5000 RPM. Pulser itu sendiri terhubung dengan CDI dan bertugas mengirimkan sinyal pengapian ke CDI berdasarkan bacaan dari tonjolan magnet.
Pulser pengapian ada di dalam tutup bak mesin sebelah kiri bersamaan dengan magnet alias flywheel alias roda gilanya. Setelah tutup bak mesin dibuka (step-by-step proses ngebukanya bisa dilihat di manual), bakal kelihatan tanda-tanda pengapian dan tonjolan pulser alias reluctor nempel di magnet sementara pulser alias pulse generator-nya sendiri nempel di tutup kiri.
Ada tiga tanda pengapian: T, F dan dua buah garis paralel vertikal yang untuk sekarang ini akan gw sebut sebagai garis PL. Kemudian bisa dilihat juga ada Tanda Penyesuaian (sebutan mekaniknya apa sih?) yang di sini gw sebut sebagai alignment mark. Tanda Penyesuaian ini selalu sejajar dengan tanda yang sama yang ada pada bagian luar tutup bak mesin sebelah kiri.

Kalau Tanda Penyesuaiannya disejajarkan dengan tanda T di magnet, piston berada pada posisi TMA. Dengan memakai timing light, Tanda F harus sejajar dengan Tanda Penyesuaian saat mesin sedang langsam. Hal ini berarti mesin sedang memercik busi pada 10 derajat sebelum TMA (artinya selisih antara tanda T dan F adalah 10 derajat rotasi kruk as). Kemudian garis PL harus sejajar dengan Tanda Penyesuaian pada 5000 RPM sebagai tanda bahwa pengapian ada pada 32 derajat sebelum TMA (artinya selisih antara Tanda T dan garis PL adalah 32 derajat rotasi kruk as).
Dengan penggaris, gw melakukan beberapa pengukuran dan hasilnya sebagai berikut. Berhubung gw cuma pakai penggaris karena sigmat gw lagi ngumpet, hasil pengukurannya tidak terlalu akurat.
- diameter magnet = 110mm
- jarak tanda T ke F = 9.5mm
- jarak tanda F ke PL = 22mm
- panjang tonjolan pulser = 22mm
 

 
Sebelumnya udah gw sebutin bahwa selisih antara tanda T dan F adalah 10 derajat rotasi kruk as sedangkan jarak kedua tanda tersebut sendiri adalah 9.5mm. Berarti 1 derajat rotasi kruk as bernilai 9.5/10 = 0.95mm alias hampir satu mm. Sekarang kita akan buktikan kebenarannya dengan menghitung berdasarkan diameter magnet:
Jarak keliling magnet alias circumference bisa dihitung dengan rumus pi * d.
K = pi * d = 3.14 * 110mm = 345.57mm.
Berhubung satu rotasi penuh kruk as adalah 360 derajat, maka satu derajat rotasi bernilai 345.57/360 = 0.95mm. Cocok!
Perlu bukti lagi? Selisih antara tanda F ke PL bernilai 22 derajat rotasi kruk as (karena F = 10 derajat sblm TMA dan PL = 32 derajat sebelum TMA. 32-10 = 22 derajat). Sedangkan jarak F-PL = 22mm. Berarti 1 derajat rotasi kruk as bernilai 22/22 = 1mm ~ 0.95mm. Cocok juga! Perhatikan bahwa gw cuma pakai penggaris untuk pengukurannya jadi tidak terlalu akurat.
Ternyata bukan cuma kebetulan kalau jarak F-PL sama persis dengan panjang tonjolan pulser yaitu sama-sama 22mm. Kalau gw sejajarkan tanda F dengan Tanda Penyesuaian, pulser berada persis pada ujung paling belakang tonjolan (kalau orang bule nyebutnya trailing edge). Sedangkan kalo tanda PL yang gw sejajarkan dengan Tanda Penyesuaian, pulser berada pada ujung paling depan (leading edge).
 

 
Ini berarti timing pengapian saat langsam ditentukan oleh posisi trailing edge sedangkan timing pengapian maksimum saat 5000 RPM ditentukan oleh posisi leading edge. Dari diagram di atas, pulser gw gambar sebagai ilustrasi aja karena pulsernya sendiri nempel di tutup bak mesin kiri. Jangan lupa arah rotasi kruk as kalau dilihat dari kiri mesin adalah berlawanan dengan jarum jam.
Kalau sudah tahu begitu prinsipnya, kita bisa ngembangin sendiri sesuai kebutuhan kita. Misalnya kita mau timing pengapian maksimum dimajukan lagi ke 35 derajat alias bertambah 3 derajat dari standarnya, berarti tinggal menambah panjang tonjolan leading edgenya sebanyak 0.95 x 3 = 2.85mm, boleh dibulatkan ke 3mm. Atau kita mau timing saat idlenya jadi 12 derajat? Gampang, tinggal gerinda alias kurangin bagian trailing edge sebanyak 2x0.95 = 1.9mm, boleh dibulatkan ke 2mm.
Sebenernya gimana caranya CDI bisa tahu pulser sedang membaca leading atau trailing edge? Secara sinyal, apa bedanya antara leading edge dengan trailing edge? Pulser pada dasarnya adalah sebuah Variable Reluctance Sensor (VRS atau VR sensor) yang mengeluarkan gelombang sinus kalau ada gangguan pada fluks elektromagnetnya. Dalam kasus pulser pengapian motor, gangguan fluks ditimbulkan oleh tonjolan magnet. Untuk pulser Tiger, kebetulan kabel outputnya akan mengeluarkan sinus positif pada saat leading edge (transisi dari permukaan magnet rendah ke tinggi) dan mengeluarkan sinus negatif pada saat trailing edge (transisi tinggi ke rendah). Ini gw buktikan dengan menempelkan dan melepaskan ujung obeng secara cepat ke pulsernya dan membaca tegangan keluarannya dengan multimeter. Gw bilang kebetulan karena ada motor lain yang bekerja dengan prinsip kebalikannya. Bedanya cuma pemilihan kabel pulser mana yang dihubungkan ke massa. Perlu dicatat bahwa pulser tidak peduli berapa panjang permukaannya karena selama tidak ada transisi tinggi ke rendah atau rendah ke tinggi, output pulser adalah nol volt. Bingung? Ini ilustrasinya..
 

 
Jadi dari sini sudah terlihat bahwa CDI bisa membedakan antara sinus positif dan negatif. Sinus positif menentukan timing advance maksimumnya (32 derajat sebelum TMA) dan sinus negatif menentukan timing advance minimum (10 derajat sebelum TMA).
Secara elektronik di dalam rangkaian CDI, tugas membaca sinus positif dan negatif diemban oleh dua buah transistor. Yang satu membaca sinus positif dan satunya sinus negatif. Lebih jelasnya bisa dilihat di diagram CDI AC di bawah. Rangkaian di bawah ini belum tentu sama dengan CDI AC Tiger tapi secara prinsip tidak akan beda jauh.
 

 
Kalau sudah tahu sebanyak ini, gimana cara menghubungkan pulser ke Megasquirt? Jangan di sini deh jelasinnya.. udah kebanyakan nih. Gw akan jelasin di posting lain besok.

Minggu, 01 Juli 2012

Tangki Bensin Sekunder

Berhubung rangka Tiger gw masih belum deltabox kayak Vixion, fuel pump (FP) alias pompa bensinnya ga mungkin ditanam di tangki Gelatik-nya karena selain kekecilan, bakal mentok juga ke rangka tengahnya. Jadinya gw harus bikin tangki bensin sekunder untuk sebagai rumah fuel pumpnya. Jadi nanti bensin dari tangki utama Gelatik dialirin dulu ke tangki sekunder. Baru setelah itu disedot FP dan disuplai ke injektor.
Untuk tabung tangki sekundernya, gw pakai bekas boring silinder mesin truk. Kebetulan bengkel bubut tempat gw bikin tangkinya punya banyak boring bekas. Ada yang bilang sih sebaiknya jangan pakai boring karena bahannya dari besi ancuran yang tidak terlalu kuat nahan getaran dan rentan retak. Yah udah telanjur bikin, mau gimana lagi. Maklum deh bukan insinyur metalurgi. Gw lebih akrab sama elektron.. Hehe. Lagian lumayan susah juga nyari pipa besi yang diameternya pas. Sori gw ga cerita banyak proses pembuatannya tapi cukup simpel kok. Yang perlu diperhatiin cuma baut-baut braket FPnya. Jangan sampai bensin bisa merembes dari baut-baut ini.
 
Jangan lupa buat jalur masuk bensin dari tangki asli (ya iyalah..). Tambahin juga baut untuk menguras bensin supaya kalo sewaktu-waktu lagi sial trus bensinnya kecampur air, gampang ngebuangnya. Betewe, jalur masuk bensinnya masih salah posisi nih. Nanti bakal gw pindahin karena sekarang masih kejauhan dari keran tangki bensin utama.

 
Tangki sekunder ini bakal gw tempatin di bawah jok, tepatnya di bawah tempat aki. Ini sekedar gambaran posisi akhirnya nanti. Masih belum ada braket pemegangnya..
 
Dari depan..

Dari belakang.. Keren juga ya kalo dilihat dari belakang?
 

Awas ada beruang sirkus lepas.. Itu foto gw pas nyobain naik ke rangkanya. Gile rasanya motor gw jadi menciut..


 

Progress Rangka

(Posting ini adalah terjemahan dari posting berbahasa Inggris yang dipublikasikan pada 24-Juni-2012 di blog gw yang lain, charmant4age.blogspot.com)

Coba-coba iseng coak-coakin dempulan di tangki dan nemu ini. Lumayan juga ternyata lekukan emblemnya masih ada.

Rangka jok sudah selesai. Cukup kuat untuk menopang bobot gw.

Di bawah rangka jok sudah disiapin tempat untuk aki dan alat-alat lainnya. Kayaknya ECU Megasquirtnya ga bisa ditaro di situ tapi nanti deh gw pikirin lagi gimana solusinya.

Spakbor belakangnya juga udah selesai. Sama kuatnya dengan jok tapi bentuknya masih ga sreg buat gw. Mungkin bakal gw ubah lagi nanti.

Tampak bawah spakbor belakangnya. Penjepit kabel untuk lampu rem dan sennya juga udah disiapin.

Intake Manifold dan Coolant Temp Sensor

(Posting ini adalah terjemahan dari posting berbahasa Inggris yang dipublikasikan pada 23 Juni 2012 di blog gw yang lain, charmant4age.blogspot.com)
Sementara rangkanya masih dibentuk oleh
buildernya, mesinnya gw pinjem dulu supaya bisa cicil pasang intake manifold dan coolant temp sensor (CLT). Cuma dua part itu yang nempel langsung ke mesin dan selebihnya harus nunggu rangkanya jadi sebelum bisa dipasang.
Kaget juga waktu gw perhatiin jarak baut mounting manifold karbu Tiger dan manifold TB Vixion ternyata hampir sama. Berikut komparasinya.

Cuma perlu memperbesar salah satu lubang ke arah dalam sebanyak 2-3mm. Pakai kikir juga bisa.

Intakenya sudah bisa dipasang. Intake manifold Vixion punya jalur vakum tersendiri. Kalo ga salah, fungsinya untuk membuka katup EGR (Exhaust Gas Recirculator). Berhubung gw ga pake EGR, jalur vakumnya bisa gw manfaatin untuk vacuum gauge. Atau bisa juga untuk MAP sensor terpisah kalau gw mau konversi ke turbo nanti.

Berikutnya giliran CLT sensor. Di Vixion, sensor ini ada di jalur air radiator untuk membaca suhu air pendingin. Suhu air pendingin ini menggambarkan suhu kerja mesin dan berguna bagi ECU untuk menentukan waktu bukaan injector dan juga untuk mengaktifkan Fast Idle Solenoid (FID). Terus gimana dong cara masangnya ke mesin Tiger gw yang notabene cuma berpendingin udara?
Banyak titik yang bisa dipilih untuk menempatkan sensornya. Yang penting, pastiin lokasi yang dipilih memberikan gambaran suhu yang paling mendekati suhu mesin aktual. Pastikan juga suhu mesin yang dibaca bakal stabil dan tidak gampang berubah suhu cuma karena tertiup udara. Beberapa orang memilih untuk mengebor sirip pendingin tapi ini tidak disarankan karena sirip-sirip ini terkena udara langsung dan biasanya sih lebih dingin daripada kondisi mesin aktual meskipun cuma selisih beberapa derajat Celcius. Pilihan lainnya bisa dengan mengebor dan men-tap kepala silinder supaya sensornya membaca suhu di dalam ruang klep dan kem. Gw sendiri pilih untuk membaca suhu oli mesin dan menempatkan sensornya di baut pembuangan oli.

Dinding baut pembuangan olinya lumayan tipis jadi harus hati-hati pas ngebor dan ngetap lubang untuk sensornya. Lebih bagus sih kalo dilas tambah daging dulu pakai alumunium.

Sensornya bakal nongol sedikit dan mengenai saringan oli tapi ga masalah karena saringannya cuma sedikit penyok aja dan ga sampai bolong. Kalau mau lebih aman, bisa kasih ring spacer sekitar 5mm sebelum sensornya dikencangkan. Jangan lupa dratnya dikasih silicon sealer dulu supaya olinya ga bocor.

Berikut gambar sensornya terpasang.